Motor Konversi Menggebrak Dragbike Nasional

09-03-2021,17:03

Hari Minggu lalu (7/03/21) jadi sejarah didunia kendaraan listrik kita. Beberapa penggiat kendaraan listrik yang tergabung dalam wadah Kosmik (Komunitas Sepeda dan Motor Listrik) Indonesia, menjadi kelompok pertama yang mengikutsertakan motor listrik konversi pada balap resmi di Indonesia!

Adalah tim Dhapur Racing (Riset dan Pengembangan Parts EV) yang dimotori Edwin Jidat dan Erwin, Petrikbike Racing (Modifikasi, Konversi, Service dan Spareparts EV) diisi Adi Siswanto dan krunya, Minikopi Racing-Setrum.com (Cafe dan Media Online) dengan Fab, Dario dan Aristo, serta Waay-e Custom yang digawangi Wahyu Ardianto.

Bersama beberapa pentolan Kosmik Indonesia seperti Hendro Sutono, Dharmawan Somaatmadja dan Enrico yang hadir memberi support dan semangat, termasuk genset 3000 watt yang jadi modal utama kendaraan listrik balap. Maklum saja, setup balap membuat motor haus setrum. Kondisi baterai harus dipastikan penuh sebelum start.

Event Bodisa Dragbike di Lanud Cicangkal yang jadi ajang pertama. Didukung bos event H Bahrudin, yang memberi beberapa kemudahan agar bisa ikut berlaga, termasuk pengisian data kendaraan. Bisa dimengerti, sebab belum pernah ada kelas khusus kendaraan listrik, sehingga semua motor listrik diikutkan kelas FFA campuran, yang digelar di penghujung event. Namun, setelah event, pihak Bodisa langsung menyiapkan kelas khusus, FFA kendaraan listrik untuk event 10-11 April 2021 nanti. Bravo!

            Untuk awal ini, empat motor listrik konversi yang ikut, KTM E-Duke (Minikopi Racing-Setrum.com), Satria Jadi-jadian (Dhapur Racing), Grandong (Petrikbike), dan Vespa PX (Waay-e Custom). Masing-masing dengan spesifikasi berbeda. Seharusnya ada delapan motor yang ikut, tetapi karena persiapan hanya dua minggu, yang siap hanya empat motor ini.

            Keikutsertaan setrum.com berawal dari konversi listrik KTM Duke 250 yang selesai seminggu menjelang event, yang awalnya dijadwalkan 27-28 Pebruari lalu. Namun event tersebut diundur seminggu, yakni 6-7 Maret lalu. Sehingga ada waktu sekitar dua minggu untuk menyiapkan diri. Termasuk mengubah beberapa settingan pada KTM E-Duke, yang awalnya dibuat untuk pemakaian jalan raya atau sirkuit road race.

            Butuh sekitar seminggu bersama Adi Siswanto dari Petrikbike, guna mencari settingan yang pas pada controller Votol dan setup baterai. Juga mencari kombinasi gir depan dan belakang yang maksimal untuk jarak 201 m. Akhirnya, kami mencatat best time 8,4 detik. Setara dengan Grandong milik Petrikbike.

Sebagai catatan, bobot KTM E-Duke dengan jokinya (Aristo Nathan), mencapai 220 kg. Jauh lebih berat dibandingkan dengan peserta FFA mesin bensin yang rata-rata 95- 105 kg termasuk joki. Dengan begitu, bisa dibilang hasil setting KTM E-Duke kami sudah maksimal. Jangan lupa, KTM Duke yang jadi basisnya memang dibuat untuk jalur meliuk, lengkap dengan suspensi berat dan ban-pelek besar.

            Pun disepakati tidak ada target khusus, kecuali mengukur settingan dan kombinasi perangkat motor listrik yang dipakai. Setelah event, kami pun mulai mengerti kebutuhan spesifikasi kendaraan untuk melawan mesin bensin.

Selain itu, keikutsertaan ini juga penting untuk memberi tahun masyarakat umum, bahwa motor listrik bukan hanya transportasi praktis jarak dekat, tapi bisa juga dipakai kompetisi. Ditambahkan Hendro Setiono, selain mengukur spesifikasi, ikut event ini sekalian membantu riset kendaraan agar ke depannya motor listrik bisa mengikuti balapan lain selain drag bike. “Iya ini kan untuk ngukur spek aja, kurangnya di mana nanti kita maksimalkan lagi. Dan semoga bisa ikut balapan lain seperti road race,” tutup Hendro.

           

foto : setrum.com, kosmik-edrag

Share :