BMW GROUP : SEJARAH 50 TAHUN ELEKTRIFIKASI

14-08-2022,13:34

Di awal GIIAS 2022 beberapa hari lalu, BMW Group meluncurkan sepasang mobil elektrik terbaru di Indonesia, yakni iX dan i4. Saat menjajal iX sehari sebelum launching, kami pun terkesima dengan teknologi dan kemampuan yang diusung. Sepertinya BMW sudah sangat advance di urusan elektrifikasi ini.

Sebenarnya itu hal lumrah. Sebab, tak banyak yang tahu, bahwa BMW sudah bermain elektrifikasi sejak lama, bahkan terhitung pionir dan pendorong inovasi kendaraan elektrik. Mereka mencatat sejarah ketika memperlihatkan dua mobil elektrik BMW pada Olimpiade Munich 1972, 50 tahun silam!

            Waktu itu, BMW mengkonversi sepasang BMW 1602 dengan penggerak elektrik, yang digunakan sebagai kendaraan operasional panitia Olimpiade Munich serta mobil kamera pada berbagai lomba jarak jauh.

            Awalnya pada 1969, dimana BMW menguji penggerak elektrik yang mereka kembangkan, dan dipasang pada BMW 02 Series. Waktu itu, BMW 1602 elektriknya sudah mampu melaju 100 km/j dan menempuh jarak 60 km. Inilah yang jadi tonggak awal riset dan pengembangan elektrifikasi BMW hingga saat ini.

            Kemajuan tercatat lagi pada 1975, dengan munculnya BMW LS Elektrik yang dapat dicharge pada soket elektrik rumah biasa. Meski butuh 14 jam, tapi ini menjadi catatan penting dalam perkembangan elektrifikasi.

Antara 1987 hingga 1990, delapan BMW 325iX dikonversi menjadi mobil elektrik penggerak roda depan. Ini juga menjadi ajang uji coba baterai sodium-sulfur yang mampu menyimpan energi 3 kali lipat dari baterai konvensional saat itu.

Pada International Motor Show 1991 di Frankfurt, BMW mengenalkan E1, yang sudah setara mobil konvensional saat itu. Mampu mengangkut empat penumpang ditambah bagasi, mobil ini mampu menempuh 160 km per charge dalam kondisi lalu lintas normal.

Dengan motor dan transmisi yang terintegrasi pada gardan belakang, baterai di bawah jok belakang, serta waktu charging 6 jam (pada soket rumah) dan 2 jam pada charging station khusus, mobil ini memang disiapkan untuk melawan mobil bensin saat itu.

            Pengembangan teknologi tak henti disitu. Di awal 1990an, BMW kembali menguji teknologi elektrifikasi mereka pada 25 unit seri 3. Mereka menguji berbagai konfigurasi motor, transmisi dan baterai. Data inilah yang mereka kumpulkan dan jadi basis teknologi saat ini.

            BMW terus mengembangkan dan menajamkan teknologi mereka, yang juga terasah di berbagai arena balap.

            Pada 2008, ada lebih dari 600 unit MINI E yang digunakan konsumen demi mengumpulkan data penting. Mereka mengecas baterai selama  2,5 jam dengan wallbox, dan menggunakan mobil untuk kegiatan harian. Dari situ, BMW mengumpulkan banyak informasi penting, yang hasilnya dapat kita nikmati pada produk terkini.

Masuk 2010, BMW mengenalkan Concept ActiveE yang berbasis BMW 1 Series Coupé. Pada 2012, BMW mengumumkan akan meluncurkan  mobil elektrik dengan sub-brand BMW i.

Pada 2013, BMW i3 jadi model pertamanya yang masuk pasar. Membawa berbagai teknologi baru, termasuk rangka aluminium dan CFRP (carbon fiber-reinforced plastic), i3 pun sukses besar. Pada akhir produksi di 2022, i3 terjual lebih dari 250 ribu unit, dan menjadi mobil kompak paling sukses di dunia.

Pada 2018 lalu, BMW eDrive generasi ke-4 yang lebih efisien dikenalkan. Pada 2020 lalu, muncul BMW iX3 yang menjadi model X elektrik pertama. Juga memakai BMW eDrive generasi ke-5. Teknologi serupa juga digunakan pada BMW i4, Gran Coupe empat pintu yang menawarkan kenyamanan dan performa jarak jauh kelas premium.

Kini, BMW Group menawarkan sepuluh model mobil elektrik dalam enam seri model. Ini adalah jajaran produk paling besar diantara semua produsen mobil premium saat ini!

Di pertengahan pertama tahun 2022 ini, BMW sudah menggandakan penjualan mobil elektrik mereka dibandingkan periode sama tahun lalu. Prestasi semacam ini belum terbayangkan ketika mereka mulai 50 tahun silam pada Olimpiade Munich 1972..

Share :